Kopi Luwak adalah kopi yang tidak di panen langsung dari pohonnya langsung melainkan dengan fermentasi melalui perut luwak, mungkin anda bisa membayangkan gangguan baunya. Proses panen butuh suatu kesabaran karena saat musim panen tiba maka petani membiarkan kopi yang telah matang di pohon jatuh dengan sendirinya dan mereka melepas luwak di kebun agar mau memakan biji kopi setelah binatang luwak memakan biji kopi, petani masih harus menunggu lagi sampai "si luwak" tadi membuang kotorannya, metode lain yaitu dengan memberikan biji kopi di kandang luwak yang di pelihara.
Mungkin karna harus melewati proses yang rumit inilah maka kopi Luwak sangat mahal harganya dan hanya kalangan tertentu saja yang mampu membeli kopi yang di bandrol sekitar $50 US untuk segelas kopi luwak. Ini adalah harga yang fantastis dan sangat terkenal di sebagian belahan dunia.
Menurut penelitian di kanada membuktikan kalau kandungan protein yang ada di perut Luwak, membuat biji kopi berfermentasi dan matang lebih sempurna. Sehingga, rasa yang dihasilkan jauh lebih enak dan padat dibandingkan kopi – kopi yang lain.
Masyarakat Aceh sangat hobi menghabiskan waktu di kedai kopi selama berjam-jam, tradisi ini telah turun-temurun dari zaman nenek moyang. Dulu kebiasaan minum kopi ini dibawa oleh para pedagang turki yang pergi ke aceh untuk dapat mengakrabkan diri dan ternyata menular pada masyarakat aceh hingga sekarang.
Petani Aceh Tengah mencoba menjajaki penjualan kopi luwak (dari kotoran Musang) ke Korea Selatan, karena potensinya cukup besar. Malio Adnan (42) penduduk Arul Relem, Kecamatan Silih Nara Angkup, Aceh Tengah di Takengon, Rabu menyatakan, selama ini kopi luwak di daerah berhawa dingin itu belum dikenal, sementara potensinya sangat besar, sehingga perlu dipasarkan ke luar negeri.
Menurut bapak dua anak yang pernah memberi kursi "Perdamaian" untuk Gubenur Aceh Irwandi Yusuf itu sudah saatnya kopi luwak asal dataran tinggi gayo dipopulerkan.
"Seorang pengusaha Korea di Medan sudah menyanggupi membeli kopi musang asal Takengon untuk dipasarkan di negerinya. Hanya saja mereka minta jaminan dan rekomendasi dari lembaga resmi keaslian kopi luwak," sebut Malio.
Menjawab besarnya ketersediaan kopi luwak di Takengon, menurut Malio bahan bakunya sangat banyak karena luasnya areal perkebunan kopi rakyat di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. "Apalagi seputaran kebun rakyat masih kawasan hutan, sehingga kopi luwak tersedia dalam jumlah banyak," kata Malio.
Selama ini, terang Malio, dia membeli kopi luwak dari petani langsung dan dijual dalam skala kecil kepada penggemar kopi di Banda Aceh dan Yogjakarta.
Demikianlah sedikit cerita Kopi Luwak di Aceh, salah satu negeri kopi di Indonesia.

